Budaya Lokal, Pilar Pendidikan Modern

Uncategorized203 Dilihat

Ketua Komunitas Peduli Pendidikan (KPP) Sumenep, Rahman S.Pd menekankan bahwa Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini penting diperingati sebagai pengingat akan perjuangan panjang bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan dan kedaulatan, terutama melalui pendidikan.

”Hardiknas menjadi momen untuk mengenang kontribusi Ki Hajar Dewantara dan perjuangan generasi sebelumnya dalam mengedepankan pendidikan sebagai sarana meraih kebebasan,” ujarnya.

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang meliputi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tutwuri handayani, terus menjadi panduan bagi para pendidik dalam menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas dan inspiratif.

Momentum Hardiknas, tambahnya, juga menjadi wujud apresiasi terhadap kemajuan yang telah dicapai dan tantangan yang masih harus diatasi dalam dunia pendidikan, sekaligus mengajak semua pihak untuk bersatu dan berkolaborasi dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas di seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil dan kepulauan. Ditemui Inyoman Sudirman dari Madura Network di sela-sela kesibukannya mempersiapkan webinar online, berikut wawancara selengkapnya.

Menurut Anda, mengapa Hardiknas penting untuk diperingati?
Hardiknas penting diperingati untuk mengenang perlawanan kita pada penjajah. Sulitnya mendapatkan pendidikan di masa lampau untuk memerdekakan diri menjadi bangsa yang berdaulat, dan Hardiknas adalah simbol perjuangan bangkitnya pendidikan di Indonesia. Selain itu sebagai ungkapan terima kasih atas lahirnya pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai filosofi bangkitnya gairah pendidikan yang menjadi bekal bagi pendidik untuk terus berkarya dan mengabdikan diri untuk bangsa dan negara. Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam trilogi pendidikan, yakni ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso dan tutwuri handayani selalu menjadi inspirasi bagi kita untuk terus semangat memajukan pendidikan.

Bagaimana peran pendidikan dalam menghadapi tantangan zaman modern, terutama di era digital saat ini?
Pendidikan harus hadir dengan tetap mengutamakan kearifan lokal. Bagaimana pendidikan tetap berpegang teguh pada pendidikan karakter dan nilai nilai ketuhanan. Pendidikan dan digitalisasi harus berjalan beriringan. Semua harus seimbang, pesatnya arus teknologi jangan sampai mengubah peradaban dan karakter bangsa ini. Namun, kita tidak boleh melewatkan kemajuan teknologi dan modernisasi. Butuh pengawasan dan benteng yang kokoh dari guru dan orang tua agar kemajuan teknologi tidak merusak moral bangsa dan agar budaya barat tidak merubah budaya leluhur kita.

Bagaimana peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan berkelanjutan?
Guru harus mampu mengembangkan metode pembelajaran agar dapat mendampingi peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus/bakat istimewa agar mereka bisa menikmati proses pembelajaran di lingkungan belajar yang sama dengan peserta didik yang lain.

Bagaimana dengan kualitas pendidikan di Sumenep, khususnya daerah terpencil atau kepulauan?
Jika berbicara kepulauan, ada beberapa faktor yang harus mendapatkan perhatian. Ketersediaan sarana dan prasarana yang cukup agar pemerataan pendidikan tidak tebang pilih. Pemenuhan sumber daya manusia (SDM) yang cukup sehingga kualitas pendidikan di kepulauan sama dengan daratan. Hari ini sudah ada banyak peningkatan meskipun belum maksimal. Kemajuan pendidikan kepulauan harus dapat dukungan dari banyak pihak terutama pemerintah daerah.

Terakhir, harapan Anda untuk kemajuan pendidikan di Sumenep di masa depan?
Harapan saya, harus ada terobosan baru yang sensasional. Pendidikan yang berkarakter kearifan lokal harus dikembangkan, seperti mewajibkan anak dalam penggunaan Bahasa Madura di sekolah pada setiap hari Jum’at, adanya pameran pendidikan sebagai simbol bangkitnya pendidikan di Kabupaten Sumenep, lomba digitalisasi sekolah dan pemberian penghargaan bagi guru dan penggerak pendidikan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *