Pengamat Nilai Duet Kiai Unais – Kiai Ali Fikri Bisa Merubah Peta Politik Mobilisasi ke Partisipatif

Uncategorized407 Dilihat

SUMENEP, maduranetwork.com – Gelombang antusiasme masyarakat Sumenep terhadap kemungkinan pasangan KH Muh. Unais Ali Hisyam dan KH Ali Fikri sebagai calon bupati dan wakil bupati Sumenep periode 2024 – 2029 terus menguat. Dinamika politik yang berkembang menunjukkan adanya pergeseran penting dari politik mobilisasi menuju politik partisipasi.

Menurut pengamat publik, Pahmi, ide untuk menggandeng Kiai Unais dan Kiai Fikri sebagai pasangan calon bupati dan calon wakil bupati Sumenep adalah langkah cerdas dan cermat serta menandakan perubahan yang signifikan dalam pola politik Sumenep. “Ini membawa harapan baru bagi masyarakat Sumenep,” tegasnya.

Pria asal kepulauan ini menilai bahwa duet Kiai Unais dan Kiai Fikri memiliki potensi besar untuk mengubah paradigma partisipasi politik masyarakat. Kedua tokoh ini dikenal dengan karakter kultural yang selalu dekat kepada rakyat.

“Keduanya (Kiai Unais dan Kiai Fikri, Red.) kita kenal sebagai figur kiai yang senang berdialog secara partisipatif dengan masyarakat, tanpa perlu melakukan mobilisasi atau memberikan imbalan,” jelasnya.

Ia juga menyatakan bahwa kehadiran Kiai Unais dan Kiai Fikri dalam perhelatan politik Sumenep memberikan gambaran bahwa masyarakat Sumenep tidak semata-mata pragmatis. ”Ini menunjukkan bahwa partisipasi politik masyarakat Sumenep semakin terwujud,” terangnya.

Sementara itu, perdebatan sengit mengenai kepemimpinan tunggal dan dinamika politik di Kabupaten Sumenep juga menjadi sorotan utama dalam sebuah diskusi politik bertema “Demokrasi dan Kepemimpinan Tunggal” yang dilaksanakan Jong Sumekar, Rabu (29/5).

Dalam forum tersebut, dinamika politik yang kompleks dan berbagai pandangan yang saling bertentangan mencerminkan betapa pentingnya peran partai politik dan kekuatan individu dalam pembentukan peta politik lokal.

Dalam menyikapi perdebatan ini, dosen Fisipol Unija, Dr. Wilda Rosaili, mengingatkan bahwa partai politik berperan penting dalam menentukan arah politik Sumenep. Dukungan partai politik terhadap pasangan calon yang dapat menjadi penantang terhadap petahana dianggap sangat penting bagi kelangsungan demokrasi di Sumenep.

Di hadapan peserta dialog, pria berkacamata minus ini mempertanyakan komitmen pimpinan partai politik di Sumenep dalam melakukan proses demokrasi, jika tidak punya keberanian mengusung kandidat sendiri.

Menurut dia, calon tunggal yang biasanya petahana bisa saja terjadi dalam suatu pilkada ketika tingkat penerimaan publik atas kinerja di periode sebelumnya tinggi.

“Kami tidak dalam konteks menilai kinerja kepemimpinan petahana di Sumenep, akan tetapi lebih pada tema diskusi. Ini sebenarnya tantangan bagi pimpinan parpol di Sumenep. Mau calon tunggal atau tidak,” katanya.

Sejumlah pimpinan parpol di Sumenep hadir dalam diskusi politik tersebut, tak terkecuali Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) KH Ali Fikri. Kiai Fikri menyoroti minimnya alat peraga sosialisasi para figur yang disebut-sebut akan maju sebagai kandidat.

“Proses demokrasi harus lebih baik dan dalam konteks Pilkada Sumenep 2024. Kami akan maju dan menyiapkan kandidat,” tegasnya.

Langkah Kiai Fikri, tambah Pahmi menambah kekuatan bagi upaya menjadikan Pilkada 2024 sebagai arena kontestasi yang sehat dan demokratis. ”Ini ibarat kesadaran kultur versus keberlanjutan (petahana, Red.). Menarik sekali untuk dicermati,” katanya.

Di tempat terpisah, mantan anggota FKB DPR RI, KH Muh. Unais Ali Hisyam, tengah mengintensifkan upaya untuk memperkuat kemungkinan partisipasinya dalam Pilkada Sumenep 2024. Saat ini, pengasuh Pondok Pesantren Ahlussunnah wa Al-Jamaah Ambunten telah mendaftar ke empat partai politik, yaitu PKB, Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan PPP.

Dalam rangka memperluas basis politiknya, Kiai Unais juga tengah membangun komunikasi dengan partai politik baik yang mendapat kursi di parlemen maupun non parlemen. Selain itu, ia juga aktif berkomunikasi dengan para “simbol kultur” di Sumenep, menegaskan komitmennya untuk menciptakan perubahan yang lebih baik bagi Kabupaten Sumenep ke depan.

Menurut Kiai Unais, kehadiran lebih dari satu calon pada Pilkada Sumenep 2024 sangat penting untuk pertumbuhan demokrasi di Sumenep. Hal ini diungkapkannya seiring dengan ungkapan kedekatannya dengan keluarga Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, termasuk dengan Kiai A. Warits Ilyas (alm), yang merupakan orang tua dari Ketua DPC PPP Sumenep, Kiai Ali Fikri. Kedekatan historis ini mencerminkan komitmen dan keseriusan Kiai Unais dalam berpolitik.

Dukungan terhadap gagasan yang diusung oleh Kiai Unais juga datang dari Kiai Fikri, yang menyatakan bahwa dari segi nasab dan keilmuan, keduanya memiliki kedekatan yang kuat. Kiai Fikri menegaskan bahwa partainya fokus pada memfasilitasi figur yang akan ikut dalam kontestasi Pilkada.

Keseluruhan, proses politik yang berkembang di Sumenep mencerminkan semangat untuk menjaga proses demokrasi yang sehat, inklusif, dan beragam. Dengan adanya opsi tidak calon tunggal, diharapkan masyarakat Sumenep dapat memilih pemimpin yang sesuai dengan aspirasi dan kepentingan mereka. (mj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *